Investasi besar-besaran untuk pengembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kian menjadi prioritas banyak perusahaan teknologi. Namun, di balik percepatan adopsi AI, muncul konsekuensi yang dirasakan pekerja: gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan program pengurangan karyawan di berbagai perusahaan.
Dalam sejumlah kasus belakangan ini, perusahaan memilih memangkas tenaga kerja untuk mengalihkan sumber daya ke investasi AI, baik untuk mengembangkan sistem AI maupun membangun infrastruktur pendukung seperti pusat data. Biaya yang dibutuhkan pun tidak kecil, disebut dapat mencapai ratusan hingga ribuan triliun rupiah.
Beberapa contoh investasi tersebut antara lain Amazon yang menggelontorkan sekitar Rp 211 triliun di Australia pada pertengahan Juni 2025 untuk membangun pusat data AI. Pada awal Maret 2026, Amazon juga disebut berinvestasi ke OpenAI dengan komitmen 50 miliar dollar AS atau sekitar Rp 840,12 triliun. Sementara itu, Meta berkomitmen mengalokasikan lebih dari 100 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.764 triliun) untuk investasi AI, dengan belanja modal terkait AI diperkirakan meningkat menjadi 125 miliar hingga 145 miliar dollar AS (sekitar Rp 2.205 triliun hingga Rp 2.557 triliun).
Di tengah kebutuhan belanja yang tinggi itu, sejumlah perusahaan mengambil langkah efisiensi melalui PHK. Alasan yang kerap muncul adalah transformasi bisnis dan restrukturisasi organisasi. Berdasarkan rangkuman sejumlah peristiwa PHK, terdapat dua pola efisiensi yang diharapkan perusahaan: menggantikan peran tertentu secara langsung dengan AI untuk menekan biaya produksi, serta mengurangi tenaga kerja guna membantu pembiayaan pengembangan AI.
Meta, misalnya, pada April mengumumkan rencana pengurangan 10 persen total pekerja. Pada 20 Mei 2026, perusahaan kemudian merumahkan sekitar 8.000 karyawan secara global. Jumlah pegawai Meta pada akhir Maret tercatat 80.000 orang, sehingga pemangkasan tersebut menurunkan jumlahnya menjadi sekitar 72.000. Menurut sumber yang mengetahui rencana perusahaan, PHK terutama menyasar tim engineering dan produk, dan pemangkasan tambahan masih mungkin terjadi hingga akhir tahun. Dalam memo internal, CEO Meta Mark Zuckerberg menyebut pengorbanan diperlukan untuk menguasai AI. Sebelumnya, pada 18 Mei, Meta juga merestrukturisasi dengan memindahkan 7.000 pegawai ke proyek AI baru.
Oracle melakukan PHK terhadap 30.000 karyawan pada awal April, atau sekitar 18 persen dari total pegawai global. Perusahaan menyebut langkah itu sebagai bagian restrukturisasi untuk menyederhanakan operasional, seiring pergeseran fokus investasi ke AI dan infrastruktur pusat data.
Amazon juga memangkas 16.000 karyawan pada awal 2026, setara 9 persen dari total staf. PHK ini merupakan putaran kedua sejak 2025, setelah sebelumnya perusahaan memangkas 14.000 karyawan pada akhir Oktober 2025. CEO Amazon Andy Jassy sempat menyatakan bahwa peluncuran AI generatif dan agen AI akan mengubah cara kerja, sehingga perusahaan membutuhkan lebih sedikit orang untuk beberapa pekerjaan tertentu dan lebih banyak untuk jenis pekerjaan lain. Di sisi lain, Amazon juga berada dalam persaingan ketat dengan perusahaan teknologi besar lain untuk mengembangkan AI dan memperkuat infrastruktur komputasi.
Cisco pada pertengahan Mei melakukan PHK massal terhadap 4.000 karyawan (sekitar 5 persen dari total pegawai). CEO Cisco Chuck Robbins menyebut pemangkasan ini dilakukan agar sumber daya dapat difokuskan pada investasi AI. Dalam laporan keuangannya, Cisco menyatakan penjualan infrastruktur AI ke perusahaan hyperscaler sepanjang tahun fiskal berjalan mencapai 5,3 miliar dollar AS (sekitar Rp 93 triliun). Proyeksi pesanan infrastruktur AI dinaikkan menjadi 9 miliar dollar AS dari sebelumnya 5 miliar dollar AS, sedangkan pendapatan bisnis AI diproyeksikan naik dari 3 miliar dollar AS menjadi 4 miliar dollar AS.
Block, pengembang dompet digital Cash App yang dipimpin Jack Dorsey, pada Februari 2026 melakukan PHK terhadap lebih dari 4.000 karyawan. Jumlah pegawai Block berkurang sekitar 40 persen, dari 10.000 menjadi kurang dari 6.000 pekerja. Dalam surat kepada pemegang saham, Dorsey menyatakan tim yang lebih kecil dengan alat AI yang mereka bangun dapat membuat operasional lebih efisien. Manajemen Block juga menyebut penggunaan AI meningkatkan kecepatan dan efisiensi tim software dalam menyusun kode pemrograman berkualitas tinggi hingga 40 persen dari September 2025 sampai Februari 2026, serta memungkinkan perusahaan berinvestasi kembali pada pos lain seperti infrastruktur AI dan perekrutan talenta berkeahlian AI.
Coinbase pada awal Mei mengumumkan pemecatan 700 karyawan. CEO Coinbase Brian Armstrong menyebut keputusan itu diambil karena pasar kripto sedang lesu, sementara AI dapat membantu menekan biaya tenaga kerja. Ia menyatakan perusahaan perlu menyesuaikan struktur biaya agar lebih ramping, cepat, dan efisien.
Atlassian, pengembang perangkat lunak seperti Jira dan Trello, memangkas 1.600 karyawan secara global pada pertengahan Maret. CEO Atlassian Mike Cannon-Brookes menyebut langkah ini dilakukan untuk mengalihkan sumber daya ke investasi AI, memperkuat bisnis penjualan segmen enterprise, memperbaiki profil keuangan, serta menyesuaikan strategi kerja agar lebih cepat dan efisien di era AI. Ia juga menyinggung kebutuhan adaptasi terhadap perubahan alur kerja, keterampilan, dan jumlah tenaga kerja.
Microsoft, pada akhir April, menawarkan program pensiun dini untuk karyawan berbasis di Amerika Serikat. Mengacu pada data internal Juni 2025, Microsoft memiliki 125.000 karyawan di AS. Program ini ditujukan kepada sekitar tujuh persen dari jumlah tersebut, atau sekitar 8.750 orang. Kebijakan ini disebut sebagai strategi mengamankan arus kas di tengah pengeluaran AI yang tinggi, terutama untuk membangun kapasitas pusat data. Belanja modal gabungan raksasa teknologi (Microsoft, Apple, Meta, Amazon, dan Alphabet) dilaporkan mencapai 383 miliar dollar AS pada tahun lalu dan diproyeksikan menembus 500 miliar dollar AS pada 2026. Khusus Microsoft, total pengeluaran diperkirakan meningkat dari 44,5 miliar dollar AS pada 2024 menjadi sekitar 98 miliar dollar AS pada 2026.
Di tengah rangkaian PHK tersebut, keterkaitan AI dan pengurangan tenaga kerja dinilai tidak selalu sederhana. Sejumlah pandangan menyebut AI kerap dijadikan “kambing hitam” dalam restrukturisasi, termasuk ketika perusahaan ingin merampingkan organisasi atau mengoreksi perekrutan berlebihan. Fenomena yang disebut “AI washing” menggambarkan situasi ketika narasi AI dipakai untuk membungkus keputusan bisnis lama seperti efisiensi biaya. Disebut pula adanya survei terhadap manajer perekrutan yang menunjukkan sekitar 59 persen perusahaan mengakui menekankan AI dalam pengumuman PHK karena dinilai “terlihat lebih baik di mata pemangku kepentingan”.
Konteks lain yang ikut membentuk situasi adalah koreksi pasca-pandemi. Selama pandemi, perusahaan teknologi melakukan ekspansi besar-besaran dan merekrut agresif. Ketika pertumbuhan melambat, perusahaan memasuki fase penyesuaian, di saat yang bersamaan mendorong ekspansi investasi ke AI.
Sejumlah petinggi teknologi juga menekankan bahwa AI tidak selalu menggantikan manusia secara langsung, melainkan mengubah cara kerja. Perusahaan menuntut output yang sama atau lebih tinggi dari tim yang lebih kecil dengan bantuan AI. CEO Google Sundar Pichai, misalnya, menyebut adopsi AI meningkatkan produktivitas engineer sekitar 10 persen. Dari sisi Meta, CFO Susan Li menyatakan perusahaan belum mengetahui ukuran tim yang ideal di era AI karena efisiensi terus berubah, sehingga banyak perusahaan masih bereksperimen mencari kombinasi optimal antara manusia dan mesin.
Data industri juga menggambarkan hubungan yang lebih kompleks: sekitar 20 persen PHK di sektor teknologi pada 2026 dikaitkan dengan AI, tetapi perubahan ini dinilai lebih berupa reorganisasi ketimbang eliminasi pekerjaan sepenuhnya. Seorang analis menyebut sektor teknologi sedang dibentuk ulang oleh AI menuju alur kerja yang lebih efisien berbasis teknologi. Di sisi lain, ada pula pandangan bahwa dalam jangka panjang AI dapat menciptakan lebih banyak pekerjaan, mengacu pada konsep “Jevons Paradox”, yakni peningkatan efisiensi yang justru mendorong permintaan dan membuka peluang kerja baru.
Pada akhirnya, gelombang PHK di era AI disebut sebagai hasil kombinasi berbagai faktor: koreksi pasca-ekspansi pandemi, tekanan efisiensi, eksperimen reorganisasi, hingga perubahan strategi bisnis. AI memang menjadi bagian dari transformasi, tetapi dinilai bukan satu-satunya penyebab. Untuk membaca arah industri, indikator yang dianggap lebih relevan bukan hanya siapa yang di-PHK, melainkan siapa yang direkrut berikutnya—apakah perusahaan benar-benar meningkatkan perekrutan talenta dengan keterampilan AI atau sekadar menggunakan label baru untuk dinamika lama dalam bisnis.