BERITA TERKINI
Bappenas Dorong IPB Perkuat Riset dan Hilirisasi Sawit Nasional

Bappenas Dorong IPB Perkuat Riset dan Hilirisasi Sawit Nasional

Pemerintah menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memperkuat transformasi industri kelapa sawit nasional menuju sektor yang berbasis inovasi, berkelanjutan, dan bernilai tambah tinggi. Institut Pertanian Bogor (IPB) dinilai memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat pengembangan riset sekaligus hilirisasi sawit nasional.

Penegasan tersebut disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy saat menerima delegasi IPB yang dipimpin Guru Besar Fakultas Pertanian IPB Prof. Sudrajat di Gedung Bappenas, Jakarta, Senin (25/5). Pertemuan itu membahas agenda strategis, mulai dari pengelolaan lahan, penguatan pusat studi sawit, hingga pengembangan model hilirisasi yang melibatkan perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor industri.

Rachmat menyampaikan pengembangan sawit nasional memasuki fase baru yang tidak lagi dapat bergantung pada ekspor bahan mentah. Menurut dia, pemerintah mendapatkan arahan langsung dari Presiden untuk mempercepat hilirisasi sawit melalui kolaborasi lintas lembaga.

“Kami semua mendapat arahan langsung dari Presiden. Khusus sawit ini, paling tidak ada tiga institusi yang mendapat arahan, yaitu kementerian yang menangani lahan dan pendidikan tinggi, kemudian Agrinas, dan saya sebagai Kepala Bappenas, karena kami mendapat tugas untuk menangani hilirisasi sawit. Dari sinilah sebenarnya IPB harus berhubungan dan mengambil peran strategis,” ujar Rachmat dalam keterangan resmi.

Ia menilai industri sawit Indonesia memiliki peluang besar untuk menghasilkan beragam produk bernilai tambah tinggi dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, hilirisasi disebut perlu diarahkan pada pengembangan produk inovatif yang dapat meningkatkan daya saing nasional sekaligus memperluas manfaat ekonomi.

Rachmat mencontohkan bahwa satu tandan sawit tidak hanya berhenti pada produksi crude palm oil (CPO) maupun tandan buah segar (TBS), tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai produk industri dan kebutuhan konsumen modern.

“Sudah waktunya kita tidak hanya menjual CPO atau TBS saja. Satu tandan sawit itu bisa menjadi berbagai produk bernilai tinggi. Bisa menjadi lipstik alami, kapsul beta karoten, material komposit, sampai produk industri lainnya. Sawit itu sangat eksotis kalau diolah dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu saya ingin pusat studi sawit di IPB dilanjutkan dan diperkuat, meskipun dimulai dari skala kecil, karena dampaknya nanti akan sangat monumental,” kata Rachmat.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah juga mendorong IPB terlibat dalam penguatan rantai pasok dan pengembangan kelembagaan ekonomi desa melalui program Koperasi Desa Merah Putih. Kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan pelaku industri dipandang penting agar pengembangan sawit dapat memberikan manfaat lebih luas, termasuk bagi masyarakat dan petani di daerah sentra perkebunan.

Sementara itu, Prof. Sudrajat menjelaskan IPB sedang menyiapkan sejumlah skema kerja sama untuk mendukung pengelolaan kebun sawit sekaligus membangun ekosistem pendidikan berbasis industri sawit berkelanjutan. Salah satu model yang dipertimbangkan adalah pengelolaan kebun secara profesional dengan melibatkan praktisi industri berpengalaman.

Menurut Sudrajat, skema tersebut tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga akan diintegrasikan dengan pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat. Pertemuan Bappenas dan IPB ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi pemerintah dan dunia akademik dalam mendorong transformasi industri sawit Indonesia menuju model pembangunan yang lebih inovatif, berkelanjutan, dan bernilai tambah tinggi.