BERITA TERKINI
Bank Jago: AI Jadi "Co-Pilot" untuk Memperkuat Peran Karyawan, Bukan Menggantikan

Bank Jago: AI Jadi "Co-Pilot" untuk Memperkuat Peran Karyawan, Bukan Menggantikan

Teknologi artificial intelligence (AI) semakin menjadi bagian dari cara bank menjalankan operasional, mengambil keputusan, hingga menghadirkan layanan bagi nasabah. Namun, di balik percepatan adopsi teknologi ini, tantangan bagi industri perbankan adalah merancang model bisnis yang tetap relevan, bertanggung jawab, dan berfokus pada manusia.

Isu tersebut mengemuka dalam Indonesia HR Director Summit ke-12 di Jakarta, dalam forum diskusi bertajuk Reinventing HR Leadership in the Age of AI and Work Transformation. Para pimpinan human resources (HR) menekankan pentingnya penerapan AI berbasis manusia (human-centric) untuk menjaga keseimbangan antara inovasi dan tanggung jawab.

Bank Jago menjadi salah satu perusahaan yang mengambil langkah strategis dalam pemanfaatan AI. Penguatan kapabilitas AI internal diarahkan untuk menangani tugas-tugas rutin dan repetitif, sementara manusia tetap memegang kendali atas keputusan penting, membimbing tim, dan membangun kepercayaan dengan nasabah.

Head of People & Culture Bank Jago, Pratomo Soedarsono, mengatakan perusahaan memposisikan AI sebagai pendamping kerja, bukan pengganti. “Kami di Bank Jago memposisikan AI sebagai ‘co-pilot’, bukan ‘autopilot’. AI bukan pengganti manusia, tetapi mitra yang memperkuat peran dan kreativitas setiap Jagoan (istilah untuk karyawan Bank Jago),” ujarnya pada Senin (2/3/2026).

Menurut Pratomo, sebagai bank berbasis teknologi, Bank Jago menjadikan AI bagian dari pengelolaan sumber daya manusia, mulai dari proses rekrutmen, pengelolaan kinerja, hingga pengembangan keterampilan. Pemanfaatan AI disebut membantu mencocokkan kompetensi kandidat secara lebih presisi, memprediksi kebutuhan talenta digital, serta mengidentifikasi kesenjangan keterampilan.

Dalam penerapannya, AI digunakan untuk menyederhanakan proses kerja, membantu penyusunan informasi, dan mendukung pengambilan keputusan berbasis data. Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan manusia, dengan prinsip akuntabilitas dan konteks yang jelas.

Di sisi pengembangan SDM, Bank Jago mendorong peningkatan kapabilitas AI melalui program pembelajaran berbasis kelas bersama mitra global dan institusi data yang dikaitkan dengan kebutuhan kerja. Perusahaan juga menginisiasi Jago Digital Academy (JDA), sebuah platform pembelajaran digital yang telah diikuti lebih dari 18 ribu peserta.

“AI tidak boleh berhenti sebagai tools. Tantangannya adalah bagaimana menjadikannya bagian dari alur pekerjaan sehari-hari, tanpa menghilangkan tanggung jawab manusia,” kata Pratomo.

Bank Jago membagi perjalanan penggunaan AI ke dalam tiga persona karyawan. Tahap pertama adalah explorer, ketika AI dimanfaatkan untuk membantu tugas harian dan meningkatkan efisiensi. Berikutnya, tahap pilot, yakni saat AI mulai diintegrasikan ke dalam proses kerja dan pemecahan masalah yang lebih kompleks. Tahap terakhir adalah architect, yaitu karyawan yang merancang dan membangun solusi AI untuk mendorong inovasi di organisasi.

Untuk membantu karyawan beradaptasi di era AI dan transformasi kerja, Bank Jago memperkenalkan Capability Journey, peta pengembangan karier yang disusun agar diskusi antara karyawan dan atasan lebih konkret dan terarah. Menurut Pratomo, peta tersebut membantu perusahaan melihat potensi individu dan memastikan pengembangan selaras dengan kebutuhan organisasi, sekaligus mendukung pertumbuhan kemampuan digital karyawan.

Secara keseluruhan, pemanfaatan AI di Bank Jago mengikuti perjalanan karyawan sejak awal, mulai dari rekrutmen yang disebut lebih cepat dan objektif, dukungan pengelolaan kinerja dan pengembangan keterampilan, hingga pengolahan survei keterlibatan serta umpan balik 360 derajat. Rangkaian ini dirancang untuk memberi gambaran tentang dinamika tenaga kerja dan membantu manajemen mengambil keputusan yang lebih tepat.

Ke depan, Bank Jago juga menyatakan tengah mengembangkan asisten pribadi berbasis AI untuk membantu karyawan mengakses informasi dan menjalankan layanan mandiri dengan lebih cepat dan praktis.

Dalam pelaksanaannya, Bank Jago menegaskan setiap inisiatif AI mengacu pada panduan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Perusahaan menyebut optimalisasi AI tetap mengedepankan transparansi, melibatkan manusia sebagai pengambil keputusan akhir, serta memiliki jejak audit yang jelas untuk menjaga akuntabilitas dan kepercayaan pemangku kepentingan.

Pratomo menambahkan, budaya kerja adaptif tidak hanya soal kecepatan dan digitalisasi, tetapi juga memberi ruang bagi karyawan untuk tumbuh, berinovasi, dan berkolaborasi dalam menghadirkan gagasan yang solutif.