BERITA TERKINI
Aplikasi Perdagangan Saham Berbasis AI Merebak di Asia, Regulator Waspadai Risiko

Aplikasi Perdagangan Saham Berbasis AI Merebak di Asia, Regulator Waspadai Risiko

Penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam perdagangan saham ritel kian meluas di Asia, didorong oleh kemunculan layanan yang memudahkan investor individu menyusun strategi secara otomatis. Di Tiongkok, East Money—platform pialang saham ritel berbasis di Shanghai—meluncurkan layanan baru yang memungkinkan pengguna membuat strategi perdagangan kuantitatif menggunakan bahasa alami melalui asisten virtual AI, tanpa perlu menguasai pemrograman yang kompleks.

Tren ini terlihat dari Hong Kong dan Singapura hingga Korea Selatan. Alih-alih menghabiskan waktu menganalisis grafik teknikal, membaca laporan keuangan, atau mengikuti berita, investor ritel dari kalangan Generasi Z (lahir 1997–2012) dan Milenial (lahir 1981–1996) semakin banyak yang mempercayakan pengelolaan portofolio kepada AI. Teknologi tersebut dapat memindai jutaan titik data mentah, menganalisis tren pasar, mengukur sentimen sosial di internet, hingga mengeluarkan perintah beli dan jual otomatis dalam waktu singkat.

Munculnya “akun perdagangan berbasis AI” turut mengaburkan batas antara analisis data dan layanan penasihat investasi profesional. Pendukungnya menilai AI menawarkan keunggulan dalam kecepatan dan akurasi, sekaligus mengurangi peran emosi yang kerap memengaruhi keputusan investor individu.

Namun, efektivitas AI dalam praktik perdagangan otomatis disebut belum selalu sejalan dengan ekspektasi. Sebuah eksperimen skala besar bernama Alpha Arena, yang dilakukan oleh lembaga keuangan, menguji delapan model AI terkemuka dengan pendanaan masing-masing sebesar 10.000 dolar AS untuk memperdagangkan saham teknologi di Amerika Serikat secara otomatis. Dari 32 percobaan, hanya enam yang mencatat keuntungan, sementara banyak percobaan lain mengalami kerugian lebih dari 50% dalam dua minggu.

Para ahli dari Sui Group Holdings, grup investasi internasional yang berbasis di Wayzata, Minnesota, Amerika Serikat, memperingatkan bahwa tanpa pelatihan yang mendalam, alat AI umum yang beredar di pasaran berpotensi menghasilkan rekomendasi tidak akurat atau mendorong kecenderungan pada taruhan jangka pendek yang berisiko.

Ledakan perdagangan saham berbasis AI di kalangan ritel juga menempatkan regulator keuangan di berbagai negara Asia pada posisi sulit. Dengan jutaan algoritma investor ritel yang dapat beroperasi menggunakan pola pikir dan masukan data yang serupa, muncul kekhawatiran atas risiko “efek kawanan digital”. Dalam kondisi tertentu, fluktuasi kecil atau satu sinyal gangguan dari pasar dapat memicu aksi jual massal yang berujung pada penurunan harga tajam dan sulit dikendalikan.

Nikkei Asia mengutip pandangan para ahli internasional yang menekankan bahwa dalam persaingan keuangan yang ketat, ketajaman berpikir, kemampuan mengendalikan emosi, serta pemahaman mendalam terhadap aset yang diinvestasikan tetap menjadi faktor penentu keberlangsungan sebuah rekening investasi.