JAKARTA — Kacamata pintar kian ringkas, tetapi perdebatan soal privasi justru semakin menguat. Di tengah kontroversi penggunaan Meta Ray-Ban untuk merekam di ruang-ruang sensitif seperti kamar mandi, ruang sidang, hingga klinik dokter, muncul aplikasi Android bernama Nearby Glasses yang menawarkan cara sederhana untuk membantu orang mengetahui keberadaan kacamata pintar di sekitar mereka.
Aplikasi yang dikembangkan Yves Jeanrenaud itu bekerja dengan mendeteksi “advertising frames” Bluetooth, yakni sinyal kecil yang dipancarkan perangkat nirkabel di sekitar pengguna. Ketika sistem mendeteksi adanya kacamata pintar, ponsel akan menampilkan peringatan. Jeanrenaud menyebut aplikasinya sebagai “bagian kecil dari perlawanan terhadap teknologi pengawasan.”
Saat ini, Nearby Glasses tersedia untuk Android melalui Google Play dan GitHub. Aplikasi tersebut tetap memiliki keterbatasan, termasuk kemungkinan menghasilkan peringatan keliru (false positive), misalnya saat pengguna berada dekat perangkat seperti headset VR Apple Vision Pro. Namun, dalam praktiknya, perangkat VR berukuran besar dinilai tidak lazim dipakai berjalan di ruang publik, berbeda dengan kacamata pintar yang sengaja dirancang agar terlihat seperti kacamata biasa.
Isu utama bukan semata pada teknologinya, melainkan pada cara perangkat tersebut digunakan. Meta Ray-Ban pada dasarnya merupakan kamera yang dikenakan di wajah dan terhubung dengan layanan media sosial. Sejumlah pola penggunaan yang mencuat menunjukkan perangkat itu dimanfaatkan untuk merekam staf spa tanpa izin, melakukan siaran langsung di ruang privat, hingga dibawa ke ruang sidang.
Kekhawatiran juga muncul dari lingkungan peradilan. Hakim California Carolyn Kuhl menyampaikan secara terbuka bahwa perangkat semacam itu, jika dipadukan dengan teknologi pengenalan wajah, berpotensi digunakan untuk mengidentifikasi juri di pengadilan.
Dalam konteks ini, sorotan mengarah pada Apple, yang selama ini dikenal dengan pendekatan “privacy-first.” Namun, pasar kacamata pintar telah lebih dulu dibentuk oleh perusahaan seperti Meta dan Snap sebagai perangkat untuk merekam dan membagikan konten secara instan. Ekspektasi konsumen pun terbentuk: kacamata pintar dipandang sebagai kamera yang bisa digunakan untuk live streaming.
Dilema bagi Apple menjadi jelas. Jika perusahaan mengambil jalur etis yang ketat—misalnya merilis kacamata tanpa kemampuan mengambil foto atau video—perangkat tersebut bisa dipuji oleh aktivis privasi, tetapi berisiko dianggap kurang menarik secara komersial. Sebaliknya, jika Apple mengikuti arus pasar dengan menghadirkan fitur perekaman penuh, perusahaan akan masuk ke wilayah abu-abu yang kini menjadi perdebatan publik.
Secara teknis, beberapa opsi kompromi disebut memungkinkan. Kamera dapat dibatasi untuk fungsi utilitarian seperti navigasi, identifikasi objek, atau aksesibilitas visual, tanpa membuka akses siaran langsung secara bebas. Indikator LED perekaman juga bisa dibuat lebih besar dan tidak dapat dimodifikasi. Selain itu, pendekatan seperti Nearby Glasses dapat diintegrasikan langsung ke iOS sebagai fitur perlindungan bagi komunitas.
Namun, realitas industri kerap bergerak lebih pragmatis. Integrasi dengan platform sosial disebut menjadi salah satu mesin penjualan, sementara kamera menjadi daya tarik utama. Pengalaman sebelumnya juga menunjukkan bahwa penggunaan nyata perangkat sering kali membentuk tujuan teknologi, melampaui niat awal pembuatnya.
Di tengah laju inovasi dan regulasi yang dinilai masih tertatih, teknologi pengawasan konsumen—mulai dari kamera bel pintu hingga kacamata berbasis AI—diperkirakan tidak akan mereda. Dalam situasi itu, aplikasi kecil seperti Nearby Glasses digambarkan sebagai semacam alarm awal di ruang yang mulai memanas: pengingat bahwa transparansi dan pagar etika dapat menjadi faktor pembeda ketika perangkat berisi lensa dan sensor semakin umum di ruang publik.