YOGYAKARTA—Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu menegaskan masyarakat, khususnya generasi muda, tidak boleh membiarkan perkembangan teknologi melaju lebih cepat dibanding etika, literasi, dan tanggung jawab finansial. Pernyataan itu disampaikan pada hari pertama Jogja Finansial Festival 2026 (JFF 2026) di Jogja Expo Center, Jumat (22/6/2026).
Anggito menyoroti sejumlah fenomena yang dinilainya mengkhawatirkan. Ia menyebut anak muda semakin mudah membuka akun investasi, namun belum mampu menyusun perencanaan keuangan. Di sisi lain, transaksi digital kian aktif, tetapi banyak rekening justru menjadi pasif.
Ia juga menyinggung cepatnya pertumbuhan pinjaman online ilegal, masuknya judi digital melalui platform teknologi, serta maraknya investasi semu yang memanfaatkan rendahnya pemahaman masyarakat.
Menurut Anggito, kondisi tersebut menjadi alasan pentingnya JFF 2026 digelar di Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar. Ia menekankan festival ini tidak semata membahas ekonomi, investasi, atau literasi keuangan, melainkan menjadi ruang pertemuan gagasan dan harapan generasi muda.
Anggito mengatakan, melalui forum semacam ini, anak muda diharapkan belajar bahwa pengelolaan masa depan bukan hanya soal mengejar manfaat finansial, tetapi juga membangun ketahanan, menguasai teknologi, memitigasi risiko, menjaga martabat, dan menciptakan peluang.
Dalam rangkaian JFF 2026, sesi Business Talks yang dipandu Chairman CT Corp Chairul Tanjung turut memunculkan optimisme. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengapresiasi sistem coretax yang salah satunya digagas Anggito saat masih menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan.
Purbaya menyatakan sistem tersebut terbukti berjalan baik dan dinilai berkontribusi pada penerimaan pajak, sekaligus meningkatkan transparansi serta kepatuhan wajib pajak.
Selain itu, Purbaya menyampaikan optimisme terkait penguatan nilai tukar rupiah. Ia menilai hal itu didukung kepastian berlakunya aturan penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang sempat tertahan berbulan-bulan akibat lobi pebisnis, serta derasnya aliran dana masuk dari penerbitan obligasi global (global bond).
Ia berharap dampak DHE terhadap devisa negara semakin signifikan, sehingga turut memperkuat nilai tukar rupiah.