BERITA TERKINI
AI di Smartphone Kian Marak Jelang 2026: Manfaat Nyata atau Sekadar Jargon Pemasaran?

AI di Smartphone Kian Marak Jelang 2026: Manfaat Nyata atau Sekadar Jargon Pemasaran?

Dalam dua tahun terakhir, istilah Artificial Intelligence (AI) menjadi salah satu kata yang paling sering muncul dalam peluncuran smartphone baru. Hampir semua merek ponsel, dari kelas premium hingga perangkat yang lebih terjangkau, berlomba menghadirkan fitur berbasis AI sebagai nilai jual utama.

Namun, pertanyaan dari konsumen juga makin sering terdengar: apakah AI di smartphone benar-benar memberi manfaat nyata, atau hanya menjadi jargon pemasaran yang terdengar canggih?

Bagi banyak pengguna, kebutuhan utama smartphone masih relatif sederhana: performa yang cepat, baterai yang tahan lama, kamera yang bisa diandalkan, serta pengalaman penggunaan yang nyaman untuk aktivitas sehari-hari. Dalam konteks ini, kehadiran AI dinilai bernilai apabila benar-benar mendukung kebutuhan tersebut, bukan sekadar menarik saat demonstrasi produk.

Fokus AI Mulai Bergeser ke Pengalaman Pengguna

Seiring teknologi kecerdasan buatan semakin matang, pendekatan industri smartphone disebut mulai berubah. Jika sebelumnya AI kerap ditonjolkan sebagai daya tarik utama dalam materi promosi, kini fokusnya diklaim bergeser ke pengalaman pengguna yang lebih personal, relevan, dan bermanfaat dalam keseharian.

Sergio Ticoalu, Southeast Asia Marketing Director Infinix, mengatakan perkembangan AI di smartphone seharusnya tidak hanya mengejar kecanggihan teknologi, melainkan bagaimana teknologi itu menghadirkan pengalaman yang relevan bagi pengguna.

“User sebenarnya tidak terlalu peduli apakah sebuah fitur menggunakan AI atau tidak. Yang penting adalah apakah teknologi itu membantu kehidupan sehari-hari mereka secara nyata,” ujar Sergio.

Ia menyebut pendekatan tersebut mulai diterapkan di industri, termasuk melalui pengembangan Infinix NOTE 60 Series. Menurutnya, fokus tidak lagi sebatas menghadirkan spesifikasi tinggi di atas kertas, melainkan memastikan pengalaman penggunaan yang stabil, responsif, dan seamless untuk berbagai aktivitas harian.

Chipset Jadi Fondasi AI Modern

Di balik fitur AI yang semakin beragam, terdapat peran hardware yang kerap luput dari perhatian pengguna. AI modern membutuhkan kemampuan komputasi besar agar dapat berjalan cepat dan real-time langsung di perangkat, atau dikenal sebagai on-device AI.

Marketing Manager Qualcomm Indonesia, Robiat Fahlevie, menegaskan bahwa chipset kini menjadi fondasi utama agar pengalaman AI di smartphone bisa berjalan optimal.

“AI membutuhkan processing power yang besar. Karena itu, performa chipset menjadi fondasi utama agar fitur AI bisa berjalan optimal tanpa mengorbankan efisiensi daya maupun responsivitas perangkat,” jelas Robiat.

Menurutnya, perkembangan AI tidak terlepas dari evolusi chipset yang semakin pintar dan efisien. Karena itu, produsen smartphone mulai mengandalkan platform terbaru yang mampu mengakomodasi kebutuhan AI sekaligus menjaga daya tahan baterai dan performa perangkat tetap optimal.

Salah satu contoh yang disebut adalah penggunaan Snapdragon 7s Gen 4 pada Infinix NOTE 60 Pro. Chipset ini diklaim dirancang untuk menyeimbangkan performa, efisiensi energi, dan kemampuan AI yang lebih relevan untuk penggunaan sehari-hari.

AI Makin Personal dan Adaptif

Perkembangan AI juga terjadi pada sisi perangkat lunak. Sistem operasi smartphone disebut mengalami transformasi agar pengalaman pengguna lebih personal dan adaptif terhadap kebiasaan pemakaian.

Axellio Vincent, Product Manager OS Infinix, menilai AI saat ini telah berkembang melampaui sekadar label “AI-powered” yang kerap digunakan dalam kampanye pemasaran. Menurutnya, AI modern perlu memahami konteks penggunaan secara lebih natural dan memberi bantuan yang terasa alami tanpa mengganggu pengalaman pengguna.

Melalui XOS 16 dan Infinix AI Assistant (Folax), Infinix mengembangkan fitur untuk mendukung aktivitas sehari-hari secara lebih seamless, mulai dari produktivitas hingga personalisasi perangkat.

“AI seharusnya terasa natural. Bukan fitur yang hanya dicoba sekali lalu dilupakan,” ungkap Axellio.

Gambaran ini menunjukkan arah perkembangan AI di smartphone: tidak lagi ditampilkan sebagai fitur yang mencolok, melainkan hadir secara intuitif di balik layar untuk membantu pengguna menyelesaikan aktivitas dengan lebih mudah dan efisien.