MAKKAH – Program pemanfaatan hewan kurban Kerajaan Arab Saudi melalui lembaga Adahi terus melakukan transformasi dalam tata kelola penyembelihan dan distribusi daging kurban. Adahi kini mengandalkan teknologi modern untuk memastikan seluruh rangkaian layanan berjalan efisien, higienis, dan tepat sasaran.
Perwakilan Humas Adahi, Talal Abdullah Al Harbi, menjelaskan sistem yang berjalan saat ini merupakan hasil pengembangan panjang sejak proyek tersebut diluncurkan pada 1403 Hijriah atas arahan Raja Fahd. Sebelum program itu hadir, pengelolaan hewan kurban di Arab Saudi disebut masih menghadapi berbagai persoalan, termasuk maraknya penyembelihan ilegal yang menyebabkan banyak daging terbuang dan tidak termanfaatkan secara optimal.
“Dahulu, marak pemotongan ilegal yang mengakibatkan banyak daging terbuang sia-sia atau membusuk karena tidak tertangani dengan baik,” ujar Talal saat menerima kunjungan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Senin (1/6/2026).
Seiring pengembangan sistem, Adahi kini menjadi layanan terintegrasi. Sejak tahun 1447 H, proses pembelian kurban telah masuk ke dalam aplikasi Nusuk sehingga masyarakat dapat mengakses layanan kurban melalui ponsel pintar.
Tahun ini, Adahi memproses 1,2 juta ekor kambing, meningkat dari 1 juta ekor pada tahun sebelumnya. Dengan luas lahan hampir 1 juta meter persegi dan tujuh lokasi pemotongan, efisiensi menjadi salah satu fokus utama operasional.
Talal menyebut, proses pemotongan dirancang berkecepatan tinggi. “Kami mampu memproses satu ekor kambing hanya dalam waktu 7 detik. Tahun lalu, dalam satu jam pertama setelah salat Iduladha, kami berhasil memproses 27.000 ekor,” katanya.
Untuk menjaga akurasi dan kualitas, Adahi menerapkan standar ketat, termasuk pemanfaatan teknologi Kecerdasan Buatan (AI) untuk mendeteksi jumlah hewan dan sistem penimbangan dengan tingkat akurasi hingga 99 persen. Pengawasan juga dilakukan melalui 1.250 kamera CCTV yang memantau seluruh area penjagalan selama 84 jam atau 3,5 hari penuh setelah Salat Iduladha.
Pemeriksaan kesehatan hewan dilakukan dua kali, yakni oleh dokter hewan di negara asal dan kembali saat hewan tiba di Jeddah. Setelah itu, hewan dikarantina di kandang selama dua bulan sebelum disembelih untuk memastikan kondisinya.
Dari sisi penanganan daging, Adahi menggunakan teknologi pembekuan ekstrem hingga minus 80 derajat Celsius yang diklaim mampu membekukan daging dalam 30–40 menit. Daging kemudian dikemas dalam dua bentuk, yaitu daging beku seberat 3 kilogram yang diberi nitrogen agar tetap segar dengan daya tahan hingga satu tahun, serta daging kaleng siap saji seberat 400 gram untuk wilayah terpencil atau daerah konflik.
Distribusi daging dilakukan dengan proporsi 60 persen untuk kebutuhan dalam negeri Arab Saudi dan 40 persen untuk luar negeri. Hingga kini, manfaat kurban disebut telah dirasakan oleh 30 juta orang di 27 negara, termasuk Palestina, Yaman, dan sejumlah negara di Afrika, dengan dukungan 700 lembaga dalam negeri.
Adahi juga menekankan prinsip pemanfaatan penuh. Talal menyatakan tidak ada bagian hewan yang terbuang, sementara jeroan dan kotoran dimusnahkan secara teknis melalui proses yang mengubahnya menjadi pupuk. “Kami memastikan 100 persen daging termanfaatkan, dan limbah dikelola dengan teknologi ramah lingkungan,” ujarnya.