Banyak kebiasaan digital yang dilakukan sehari-hari tanpa disadari dapat membuat perangkat lebih cepat rusak sekaligus meningkatkan risiko menjadi sasaran serangan siber. Mulai dari menunda pembaruan sistem, mengabaikan peringatan keamanan, hingga tersambung ke jaringan WiFi sembarangan, semuanya dapat membuka celah yang berbahaya.
Berikut 14 kebiasaan yang disebut perlu dihentikan agar perangkat lebih aman dan awet.
1. Meninggalkan perangkat tanpa dikunci
Meninggalkan ponsel, tablet, atau laptop dalam keadaan tidak terkunci meski hanya sebentar dapat memudahkan orang di sekitar mengakses data pribadi, aplikasi perbankan, dan akun media sosial.
2. Mengabaikan perawatan perangkat dan keamanan sistem
Menganggap remeh perawatan rutin perangkat serta mengabaikan pengaturan keamanan dasar bisa berujung pada kerusakan lebih cepat, kebocoran data, hingga kerugian finansial.
3. Tidak teliti memeriksa e-mail dan pesan masuk
Serangan melalui e-mail dan pesan singkat semakin canggih. Pesan yang meminta perubahan kata sandi, kode OTP, atau informasi pribadi perlu diperiksa dengan teliti sebelum ditanggapi.
4. Menunda pembaruan sistem
Menunda pembaruan sistem operasi dan aplikasi membuat perangkat tetap memiliki celah keamanan. Pembaruan umumnya membawa tambalan untuk kerentanan yang sudah diketahui.
5. Tidak melindungi perangkat secara fisik
Risiko seperti lonjakan listrik, benturan, atau paparan panas berlebih dapat merusak perangkat secara permanen. Penggunaan pelindung tegangan, tas berbantalan, serta tidak meninggalkan perangkat tanpa pengawasan di tempat umum atau di dalam mobil yang terparkir disebut penting.
6. Mengunduh aplikasi dan software tidak resmi
Aplikasi dari sumber tidak terpercaya atau situs berbahaya dapat membawa malware yang mencuri data, memata-matai aktivitas, hingga berpotensi menguras rekening. Pengguna disarankan mengunduh aplikasi dari toko resmi.
7. Menggunakan password lemah dan tidak mengaktifkan autentikasi dua faktor
Kata sandi yang mudah ditebak atau dipakai berulang untuk banyak akun meningkatkan risiko pembobolan. Autentikasi dua faktor (2FA) dan kata sandi yang kuat serta unik untuk tiap layanan dinilai lebih aman.
8. Ceroboh dalam kebiasaan sehari-hari
Kebiasaan makan atau minum di dekat perangkat elektronik dapat menyebabkan kerusakan permanen. Selain itu, mengakses akun penting atau bertransaksi melalui WiFi publik tanpa enkripsi juga berisiko karena data dapat disadap.
9. Lupa menonaktifkan layanan cloud yang tidak terpakai
Fitur atau layanan cloud yang dibiarkan aktif tanpa pengawasan bisa menyimpan data sensitif dan menjadi celah keamanan, sekaligus menambah tagihan yang tidak diperlukan.
10. Membiarkan perangkat terisi daya semalaman
Mengisi daya ponsel atau laptop semalaman disebut dapat berdampak pada kesehatan baterai jangka panjang karena baterai terus berada pada kondisi penuh, yang dapat mempercepat degradasi sel baterai.
11. Tidak mematikan perangkat dengan benar
Kebiasaan hanya menutup layar atau menggunakan mode sleep dapat berdampak pada usia baterai dan melewati proses enkripsi yang seharusnya aktif saat perangkat dimatikan sepenuhnya. Jika perangkat hilang atau dicuri dalam kondisi sleep, data di dalamnya berpotensi lebih mudah diakses.
12. Langsung percaya pihak yang meminta informasi pribadi
Rekayasa sosial kerap dilakukan dengan menyamar sebagai pihak resmi seperti bank, operator seluler, atau layanan teknis. Pengguna disarankan tidak memberikan kata sandi, OTP, atau data sensitif sebelum memverifikasi identitas melalui saluran resmi.
13. Terburu-buru menganggap perangkat sudah usang
Perangkat yang dianggap tidak layak pakai karena usia atau hadirnya model baru belum tentu harus diganti. Pembaruan sistem, penambahan RAM, atau penggantian ke SSD disebut bisa memperpanjang masa pakai. Mengganti perangkat tanpa menghapus data lama dengan benar juga dapat menimbulkan risiko keamanan.
14. Mengabaikan keamanan WiFi dan router di rumah
WiFi rumah dengan konfigurasi bawaan pabrik, kata sandi default, dan pengamanan minim disebut mudah dieksploitasi. Kondisi ini dapat memberi jalan bagi penyerang untuk menyusup ke jaringan dan mengakses perangkat yang terhubung, termasuk ponsel, laptop, hingga perangkat rumah pintar.
Dengan mengurangi kebiasaan-kebiasaan tersebut, pengguna dapat menekan risiko kerusakan perangkat sekaligus memperkecil peluang kebocoran data dan peretasan.